denie @ 30 December 2009 | 10:36
So, kapan waktu yg palng tepat ke pasar apung ini? bisa minta informasinya?
Wulan poespa @ 02 December 2009 | 22:52
Kayaknya asyik berwisata ke tempat ini, meskipun beleum pernah ke pasar ini..jadi ingat lihat iklan pasar terapung yang jadi ikon RCTI dulu
Agung @ 29 November 2009 | 20:51
Jangan sampai deh pasar tradisional ini musnah!!pasar rakyat kayak ini neh yg sebenarnya kokoh menumpu ekonomi kita!
lakomarudin @ 23 November 2009 | 21:22
pasar terapung semoga bertahan.pasar terapung dan masih ada lagi kehidupan warga banjar yang terpuruk akibat razia illegal loging dimana kaum pria banjar mayoritas adalah pekerja kayu,hutan kal-sel semakin habis tinggal banjir menagih janji dan selalu datang bila musin hujan tiba, kayu ulin sebgai kayu primadona untuk bangunan rumah orang banjar semakin langka. para investor yang menanam modal dibidang perkayuan pada mabur setelah perutnya kenyang, ya habis manis sepah di buang. tidak di pungkiri bahwa kerja kayu merupakan pekerjaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja mulai dari menebang, transportasi, pengolahan hingga tukang kayu. tapi kini setelah kayu habis masyarakat yang tadinya terlena oleh alam khususnya kayu kalimantan tidak tahu solusi lain untuk profesi mereka dan akhirnya...kriminalitas di Kal-Sel sekarang cukup tinggi.saya pahami jika ada warga banjar yang pro-kontra dengan tulisan saya ini tapi ingat julak pian barataan cuma ba injam alam ini dari anak cucu pian. green peace berjuang untuk keselamatan lingkungan, pemerintah berusaha "walaupun setengah hati" untuk keselamatan lingkungan.sekarang pian barataan warga banjar berjuang utk keselamatan lingkungan...cobalah...utk pemerintah pusat dn pemda Kal-Sel, saya mengusulkan beberapa solusi alternatif yang mungkin dapat di pertimbangkan utk menekan atau mungkin menghentikan laju kerusakan hutan : 1.Pemerintah dalam hal ini berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menemukan bahan pengganti kayu yang aman,kuat dan terjangkau oleh masyarakat. 2.Membuat Undang-undang yang melarang penggunaan chain shaw (alat pemotongan kayu) dari berbagai jenis dan berbagai ukuran. 3. cabut semua HPH tanpa ada pengecualian. 3.Sertakan masyarakat dalam menjaga dan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan contoh :memberikan bibit tanaman (apalagi yang langka seperti pohon ulin) kepada para siswa-siswi di sekolah untuk di pelihara sampai tumbuh subur perbibit per siswa. 4.beritahukan kepada masyarakat lewat media cetak maupun elektronik bahwa melakukan perusakan lingkungan akan mendapatkan sanksi yang keras,tegas dan mengikat. 5. carikan/ciptakan solusi profesi alternatif bagi para pekerja kayu. dan akhirnya biarkan Jukung-jukung di pasar terapung yang kebanyakan terbuat dari kayu ulin tetap lestari sebagai budaya yang membanggakan dari warga banjar sabarataan.
Backpacker @ 21 November 2009 | 11:27
Wah ramai bgt...tahun alalu ke pasar terapung ini kok sepi gak sebanyak ini?