11 November 2009 | 14:02
Monyet Ekor Panjang Punya Rumah Baru
Foto dan naskah: Kristianto Purnomo
 
Orang Bali menyebutnya bojog, orang Jawa Tengah dan Jawa Timur memanggilnya kethek, sementara orang Jawa Barat memanggilnya kunyuk, oces maupun monyet. Dengan tinggi tubuh antara 38-76 cm, primata ini terlihat kokoh dengan balutan mantel rambut berwarna cokelat kemerah-merahan di bagian bawah dan wajah meninjol dengan warna keputihan. Walau banyak nama untuk menyebutnya, hewan yang dimaksud adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), primata yang jamak dijumpai di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. 
 
Pagi di awal bulan Agustus, 15 monyet ekor panjang dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon, usai merampungkan masa rehabilitasi di pusat rehabilitasi satwa International Animal Rescue (IAR) di Ciapus, Bogor.
 
Sayangnya, sebagai primata yang mampu hidup dalam beragam kondisi dari hutan bakau di pantai, dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, monyet ekor panjang bukan termasuk satwa yang dilindungi. Lebih-lebih, monyet yang bisa memanjat sembari melompat sejauh 5 meter ini sering menjadi subyek eksploitasi. Bukan hanya menjadi olok-olokan antara manusia lantaran kenakalannya mirip dengan manusia, tetapi juga sering menjadi hewan percobaan dalam riset biomedis seperti HIV-AIDS, produksi vaksin polio, kardiovaskuler dan gastoentrik.
 
Tak heran, banyak monyet ekor panjang diserahkan kepada IAR dengan kondisi yang tak sempurna. Misalnya, ada satu monyet ekor panjang yang kehilangan ekornya lantaran dibabat oleh pemiliknya, monyet yang bisa berenang dengan baik ini juga kehilangan fungsi sosialnya sebagai satwa yang mestinya hidup berkelompok.
 

Di pulau seluas 17.500 hektar tersebut menggudangkan hutan dan beragam hewan liar seperti rusa, babi hutan, ulat phyton, monyet dan juga berbagai macam burung. Di pulau inilah monyet ekor panjang akan membaur, berkembang biak, dan menjalani kehidupan liarnya. 

Comment
durronn @ 05 April 2010 | 08:49
perlu dilestarikan tuh.. jangan biarkan orang-memusnahkan dengan sadis demi kepentingan pribadi
ricky @ 06 January 2010 | 09:47
smoga aja populasinya tidak punah
andy @ 06 January 2010 | 09:18
mereka sama - sama pengen hidup bebas, layaknya mahluk hidup yang lain-lainnya.....
myute @ 29 December 2009 | 14:46
hmmmm....itu mah monyet yang suka buat acara topeng monyet y kan,,,,,,,,
novie www.cbmcare.blogspot.com @ 29 December 2009 | 11:12
jangan punahkan satwa ini karena mereka juga makhluk yang ingin hidup seperti makhluk yang lain. lestarikan!!!
Post Your Comment
Other Photostory
Dari Balik Panggung Jakarta Fashion Week
Alunan musik mengiringi para model yang…
Asa dari Kolong Tol Pluit
Cahaya sore menerpa tiang-tiang beton…
Sepenggal Pendidikan di Tanah Abang
BAGI Agus (10) hidup bersama orangtua di…
Kroser Petani dari Gunung Sumbing
Solidhin menggeber gas sepeda motornya, meraung-raung…
Lok Baintan, Pasar Terapung Terakhir
Ibu separuh baya itu mengayuh perahu…
loading...
Loading