01 February 2010 | 19:11
Jaga Tesso Nilo untuk Generasi Penerus

Foto dan Naskah: Melvinas Priananda

 
Jalan panjang dan berliku harus dilalui untuk dapat sampai ke kawasan Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Tesso Nilo merupakan salah satu blok hutan dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera yang terletak di Provinsi Riau. Sebagian hutan Tesso Nilo ditunjuk menjadi taman nasional pada 19 Juli 2004 dengan luas 38.576 hektar yang sebagian besar berada di Kabupaten Pelalawan.
 
Terdapat dua kantong habitat gajah di kawasan hutan ini yang meliputi kawasan taman nasional dan kawasan di luar taman nasional sehingga perlu dilakukan perluasan untuk dapat mengurangi konflik manusia dengan gajah. Pada 15 Oktober 2009, Taman Nasional Tesso Nilo akhirnya diperluas berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan menjadi 83.000 hektar.
 
Sebagai kawasan yang memiliki keragaman hayati tertinggi di dunia, taman nasional ini memiliki beragam potensi ekologi lainnya, seperti keberadaan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan harimau sumatera yang berada di ambang kepunahan.
 
Melihat aktifitas memandikan gajah yang tergabung dalam pasukan “Flying Squad”, berdiskusi tentang kawasan Tesso Nilo, serta ritual pengambilan madu di pohon sialang dalam gelapnya malam adalah hal unik lainnya yang dapat ditemui di dalam kawasan tersebut.
 
Hamparan pasir putih pinggir Sungai Nilo yang berarus tenang, merupakan keasyikan tersendiri. Berbagai jenis pepohonan raksasa menjulang di sepanjang aliran sungai tersebut.
 
Menyusur kawasan taman nasional di pagi hari menggunakan perahu, membuka mata
akan rahasia keindahan alam yang selama ini terpendam di balik rimbunnya hutan dan berlikunya sungai.
 
Sebagai kawasan hutan lindung, Tesso Nilo juga tak luput dari perambahan hutan. Namun kerja keras dari berbagai instansi dan masyarakat setempat membuat kawasan ini selalu berbenah, guna menjaga kelestarian alam yang masih bertahan di antara rongrongan hutan tanaman industri dan perkebunan sawit.
 
Menatap kondisi Tesso Nilo, memperlihatkan bahwa manusia dapat hidup berdampingan dengan alam, asal ada kearifan di balik itu semua. Jaga Teso Nilo untuk generasi penerus.
Comment
medaller @ 15 March 2010 | 21:26
Indonesia diberkahi dengan keanekaragaman hayati. Sayang perhatian masyarakat terhadap lingkungan masih kurang. Jika penebangan kayu dan perambahan hutan terus menerus terjadi. Anak cucu kita hanya akan menikmati tunggul2 pohon saja...
Nurmi @ 12 February 2010 | 09:27
saya mungkin orang yang kurang berunntung karena belum bisa keluar pulau untuk melihat keindahan nusantara ini,makanya saya belum pernah ke taman nasional Tesso Nilo. tapi membaca tulisan ini sungguh sy ingin ke sana secepatnya, jangan sampai semua keindahan itu telah punah sebelum aku sempat menikmatinya.untuk yg tinggal di sana tolong dijaga jangan dirusak itu aset semua umat.
greenie @ 09 February 2010 | 19:27
Tesso Nilo hanya sebagian kecil yang masih bertahan.. Selebihnya sudah porak poranda.. Diekspansi oleh perkebunan sawit dan perusahaan bubur kertas atas seizin pemerintah setempat. Ngaco tuh pemerintahnya..
hafiz @ 09 February 2010 | 12:03
sampai detik ini, di lokasi tersebut masih terdengar nyaring suara gergaji mesin menebang pohon besar untuk konsumsi perusahaan besar di sana...
Irwan Y. @ 05 February 2010 | 14:55
Semoga Allah terus meningkatkan ketetapan hati para pemimpin dan rakyat, agar masing-masing menjaga hati dan perbuatannya.
Post Your Comment
Other Photostory
Dari Balik Panggung Jakarta Fashion Week
Alunan musik mengiringi para model yang…
Asa dari Kolong Tol Pluit
Cahaya sore menerpa tiang-tiang beton…
Sepenggal Pendidikan di Tanah Abang
BAGI Agus (10) hidup bersama orangtua di…
Kroser Petani dari Gunung Sumbing
Solidhin menggeber gas sepeda motornya, meraung-raung…
Lok Baintan, Pasar Terapung Terakhir
Ibu separuh baya itu mengayuh perahu…
loading...
Loading