09 February 2010 | 14:20
Pengembaraan Pangeran Bebek

Foto dan Naskah: Priyombodo

 
Matahari baru saja menampakkan wujudnya, sementara  ribuan bebek dengan suaranya yang khas berirama ”kwek-kwek-kwek” terdengar memecah kesunyian di area persawahan yang telah dipanen di Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tegah, pada pertengahan April.
 
Bebek-bebek itu menyebar menyusup di antara sisa-sisa batang padi untuk mencari makan. Sementara itu, sang gembala dengan sabar menunggu gembalaannya. Itulah sedikit gambaran kehidupan penggembala bebek berikut ratusan bahkan ribuan bebek gembalaannya yang dalam istilah setempat disebut barah atau boro, yang maksudnya adalah mengembara atau merantau untuk mencari makanan langsung dari alam.
 
”Tradisi itu sudah terjadi sejak puluhan tahun silam, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda,” ujar Kasub Effendi (91). Ia juga menuturkan, pada masa lalu para penggembala bebek ini  menggembalakan bebeknya hingga jauh dan berbulan-bulan lamanya. Sebut saja daerah-daerah seperti Sumedang, Cikarang, Bekasi, bahkan Rengasdengklok. Berbagai resiko selama mengembara pun selalu membayangi, seperti resiko dirampok. Tidak mengherankan jika para penggembala bebek ini juga memiliki bekal bela diri yang mumpuni untuk menjaga diri.
 
”Bebek yang digembalakan tidak semuanya merupakan bebek yang siap bertelur, tetapi juga ada meri atau anak bebek berusia satu bulan,” ujar Rosidin, yang telah lima kali berpindah-pindah tempat menggembalakan bebek sejak awal Januari lalu.
 
Bagi Rosidin dan ratusan penggembala lainnya, bebek adalah gantungan hidup. Tidak ada yang tahu pasti sampai kapan pengembaraan pangeran bebek ini akan terus berlangsung. Yang Pasti, selama telur-telur asin masih menghiasi etalase toko di Jalan Raya Pantai Utara (Pantura) Jawa, mereka akan kembali mendatangi sawah-sawah pascapanen dengan ratusan pasukan ”kwek-kwek”-nya.
Comment
Denisha @ 12 June 2011 | 03:00
HHIS I should have tuhhogt of that!
Handa tari @ 11 November 2010 | 09:02
Good job for u,pengembala bebek,tanpa engkau da bebekmu yu yakin tak bs menikmati telur asinmu
Mojo RPC angkatan 8 @ 06 July 2010 | 00:52
maknyus maknyus. motret emang bikin kecanduan. apalagi kalo menghasilkan rupiah. hahaha
Tinusarata @ 04 July 2010 | 21:07
Pujian untuk Kompas dan kepada Pangeran Bebek. Bumi Indonesia yang teramat subur, juga menciptakan lapangan kerja yang teramat ramah lingkungan dan HALAL, memanfaatkan alam tanpa merugikan yang lain. idup Indonesiaku . . .
YUmi @ 23 May 2010 | 11:40
foto-2 yang sangat brilliant! melihat fotonya saja orang sudah tahu ceritanya, Good job Mas Priyo
Post Your Comment
Other Photostory
Mereka Mewarisi Sampah Pulau Tidung
Sekelompok bocah asyik memungut sendok…
Asa Korban Awan Panas Merapi
“Saya nggak bisa kemana-mana, tiba-tiba…
Banua Wuhu di Mahengetang
BARU-BARU ini, sejumlah situs dan blog…
Petitih Hidup Keluarga Lengger
Bedak seharga lima ribuan menghiasi…
Perjuangan untuk Pendidikan
Perjalanan menuju Desa Cicaringin, Kecamatan…
loading...
Loading