Foto dan Naskah: Priyombodo
Matahari baru saja menampakkan wujudnya, sementara ribuan bebek dengan suaranya yang khas berirama ”kwek-kwek-kwek” terdengar memecah kesunyian di area persawahan yang telah dipanen di Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tegah, pada pertengahan April.
Bebek-bebek itu menyebar menyusup di antara sisa-sisa batang padi untuk mencari makan. Sementara itu, sang gembala dengan sabar menunggu gembalaannya. Itulah sedikit gambaran kehidupan penggembala bebek berikut ratusan bahkan ribuan bebek gembalaannya yang dalam istilah setempat disebut barah atau boro, yang maksudnya adalah mengembara atau merantau untuk mencari makanan langsung dari alam.
”Tradisi itu sudah terjadi sejak puluhan tahun silam, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda,” ujar Kasub Effendi (91). Ia juga menuturkan, pada masa lalu para penggembala bebek ini menggembalakan bebeknya hingga jauh dan berbulan-bulan lamanya. Sebut saja daerah-daerah seperti Sumedang, Cikarang, Bekasi, bahkan Rengasdengklok. Berbagai resiko selama mengembara pun selalu membayangi, seperti resiko dirampok. Tidak mengherankan jika para penggembala bebek ini juga memiliki bekal bela diri yang mumpuni untuk menjaga diri.
”Bebek yang digembalakan tidak semuanya merupakan bebek yang siap bertelur, tetapi juga ada meri atau anak bebek berusia satu bulan,” ujar Rosidin, yang telah lima kali berpindah-pindah tempat menggembalakan bebek sejak awal Januari lalu.
Bagi Rosidin dan ratusan penggembala lainnya, bebek adalah gantungan hidup. Tidak ada yang tahu pasti sampai kapan pengembaraan pangeran bebek ini akan terus berlangsung. Yang Pasti, selama telur-telur asin masih menghiasi etalase toko di Jalan Raya Pantai Utara (Pantura) Jawa, mereka akan kembali mendatangi sawah-sawah pascapanen dengan ratusan pasukan ”kwek-kwek”-nya.