18 April 2010 | 14:18
Sa Pa, Surga di Pegunungan Vietnam

Foto dan naskah: Kristianto Purnomo

Meski hanya sebuah kota kecil namun denyut kehidupan terlihat saat memasuki pusat kota Sa Pa. Lalu lalang orang terlihat menembus kabut di wilayah barat laut Vietnam yang berada di kaki gunung Fansipan berketinggian 3.143 meter di atas permukaan laut.

Sa Pa boleh jadi merupakan 'surga' yang menakjubkan. Di sini kita bisa menyaksikan keunikan kehidupan beragam suku minoritas pegunungan Vietnam.

Selain orang Kinh, terdapat lima suku yang tinggal di kaki gunung sekitar Sa Pa yaitu Suku Hmong 52 persen, Dao 25 persen, Tay 5 persen, Giay 2 persen dan sebagian kecil Xa Pho. Dalam berpakaian, suku pegunungan (khususnya wanita) mengenakan pakaian tradisional yang berwarna-warni. Bahkan bagi kaum perempuan seperti Suku Hmong dan Dao, pakaian selain sebagai penanda identitas juga menjadi simbol penting dalam relasi sosial.

Dari Sa Pa kita bisa menengok keindahan alam pegunungan menyusuri Desa Cat Cat, Y Linh Ho, Lao Chai, Ta Van dan Guang Ta Chai. Selain menyuguhkan hamparan bentang alam yang indah, Sa Pa juga menyajikan keunikan kehidupan suku pegunungan.

Tengok saja Desa Lao Chai yang terletak 15 kilometer dari Sa Pa. Hamparan sawah terasering membentang di sekeliling desa Suku Black Hmong tersebut. Keindahan desa ini semakin lengkap tatkala menyaksikan kaum perempuan dengan piawainya membuat berbagai kerajinan seperti kain, baju, dan tas.

Berkunjung ke Sa Pa belum lengkap rasanya jika tidak menyaksikan aktivitas pasar tradisional minguan. Setiap Sabtu dan Minggu, suku pegunungan berkumpul menggelar dagangannya di lapangan kota Sa Pa. Berbagai kerajian tradisional bisa menjadi pilihan sebagai cinderamata.

Bagi kaum muda suku pegunungan, pasar tradisional mingguan ini menjadi lokasi favorit mencari pasangan. Tak heran jika mereka juga menyebut pasar ini sebagai love market.

Comment
Lesa @ 11 June 2011 | 12:50
And I thought I was the sensible one. Thanks for setting me sitraght.
nugroho budi sukiswo @ 23 May 2011 | 23:53
sekali saya kesana, dan memang benar unik sebuah budaya lokal yang masih cukup tradisional bisa bergabung dengan kemodern masyarakat sekitarnya,.
sandy @ 12 July 2010 | 18:43
apik tenan..............
anonymous @ 27 May 2010 | 16:52
Mirip di Indonesia hanya berbeda pakaian saja.
Noprica Handayani Koira @ 23 May 2010 | 20:01
Baguuuus...
Post Your Comment
Other Photostory
Konflik Gajah dengan Manusia Tak Berkesudahan
Gulita malam menutup pemandangan Kampung…
Menggantungkan Hidup di Tali Tambang Pantai Timang
TALI tambang plastik sepanjang 200 meter berumur…
Petitih Hidup Keluarga Lengger
Bedak seharga lima ribuan menghiasi…
Monyet Ekor Panjang Punya Rumah Baru
 Orang Bali menyebutnya bojog, orang Jawa…
Kisah Relawan Merapi: Atas Nama Kemanusiaan
Dinginnya pagi masih terasa menusuk…
loading...
Loading