25 September 2009 | 22:36
Sepenggal Pendidikan di Tanah Abang

Foto dan naskah: Fikria Hidayat

BAGI Agus (10) hidup bersama orangtua di permukiman liar di samping dua perlintasan kereta api, bukan berarti tidak punya kesempatan belajar. Petang itu, dengan lantangnya dia berteriak kepada teman-teman seusia, "Ayo belajar jangan pada main!" Entah seserius apakah dia, yang jelas temen-temannya pun langsung patuh dan memenuhi sebuah gubuk untuk belajar bersama.

Sore sebelumnya, di antara air sungai yang menembus tanggul Banjir Kanal Barat, mendesir hingga menciptakan hamparan busa limbah, ia terlihat berkecipak mandi di sungai sambil menyelam. Asyik saja tidak ada beban atau ketakutan kalau air sungai hitam berbusa tercemar limbah industri dan rumah tangga. "Ayo kak mandi airnya dalam, beneran ini gak cetek," pintanya.

Begitu selesai mandi, dari tubuhnya masih terendus bau limbah dan dia langsung ambil bagian ikut belajar bersama di gubuk Sahabat Anak Tanah Abang, Jakarta Pusat, tempat bimbingan belajar bagi anak-anak urban yang dimotori para pemuda relawan.

Ada sekitar 40 anak usia lima sampai 15 tahun ikut dalam bimbingan belajar, di rumah belajar yang sangat sederhana itu. Mereka rata-rata anak pekerja keras yang putus sekolah, anak jalanan, pemulung, pengemis, tapi ada juga sebagian yang masih bersekolah.

Proses belajar tidak melulu berlangsung tertib seperti layaknya sekolah formal. Ada heterogenitas yang tergambar ketika belasan anak dari dua kelompok usia berbeda belajar dalam satu ruang pengap dan sempit. Hilda (6) misalnya, ia tiduran sambil disela tangis sementara teman-temannya tafakur belajar.

Lalu ada juga anak yang sepanjang jam bimbingan belajar hanya ribut dan bermain. Suasana bertambah gaduh ketika kereta api lalu lalang menderit bising. Namun, di tengah kondisi riuh itu, anak-anak tetap melahap soal-soal pelajaran.

Agung (11) dan kakak perempuannya Hilmi (14), dengan gesitnya menyelesaikan soal-soal perkalian yang disodorkan Sovie, guru relawan yang mengajar Sabtu sore, akhir Agustus silam. Pertanyaan yang dilempar langsung disambut dan dijawab tanpa pikir panjang oleh bersaudara itu. "Agung dan Hilmi anak yang paling menonjol di sini (Sahabat Anak), mereka juga berprestasi di sekolah, kalau anak lainnya yang tidak bersekolah sebenarnya pintar, hanya saja kelakuan mereka yang mesti dipahami," ujar Sovie.

Di luar waktu di rumah belajar, kehidupan anak-anak urban ini berubah. Saat siang mereka bekerja dan ketika malam "mencari" uang, tapi mereka juga ingat punya waktu petang yang khusus untuk bisa belajar.

Vonis masyarakat terhadap anak jalanan yang kriminal, tidak berpendidikan, marjinal apalagi liar, tidak selalu terbukti bahkan stereotipe jika dihadapkan pada fakta mereka juga punya semangat belajar, semangat yang barangkali belum tentu dimiliki oleh anak terpelajar umumnya.

Comment
Uchie Behen @ 28 October 2010 | 12:05
Kebodahan itu dekat dengan kemiskinan, jdi mari kita sama2 untuk memerangi kebodohan dengan berbagai cara yang kreatif. Koran bekas pun bisa menjadi sumber ilmu pengatahuan.
jack @ 05 February 2010 | 08:40
kegiatan sosial pendidikan, sosial bantuan kesehatan dan tidak mampu menjadi program utama 100 atau tahunan menteeri sosial biar jelas kemana larinya dana sosial tersebut
sandy @ 02 February 2010 | 23:10
pemerintah seharus ny harus peduli dengan masyarkat kecil yang terus berjuang demi kehidupan n pendidikan tuk masa depan..... semoga segala keinginan mereka terwujud dan bisa mendapatkan kahidupan layak di masa yang akan datang..... "amiiinnnn.... " :)
Fikria Hidayat @ 12 January 2010 | 16:54
@ raven: silakan Anda kontak SAHABAT ANAK Jl. Tambak II RT 06/05 No. 23 Komp. POLRI, Kel. Pegangsaan, Jakarta Pusat 10320 Telp. (021) 391 8505, Fax (021) 319 34172 atau bisa buka situs mereka http://www.sahabatanak.com
raven @ 08 January 2010 | 06:27
ada yang tw cp. u/ relawan g yah?... tertarik jadi relawan niey
Post Your Comment
Other Photostory
Konflik Gajah dengan Manusia Tak Berkesudahan
Gulita malam menutup pemandangan Kampung…
Menggantungkan Hidup di Tali Tambang Pantai Timang
TALI tambang plastik sepanjang 200 meter berumur…
Petitih Hidup Keluarga Lengger
Bedak seharga lima ribuan menghiasi…
Monyet Ekor Panjang Punya Rumah Baru
 Orang Bali menyebutnya bojog, orang Jawa…
Kisah Relawan Merapi: Atas Nama Kemanusiaan
Dinginnya pagi masih terasa menusuk…
loading...
Loading