Foto dan naskah: Kristianto Purnomo
Perjalanan menggunakan pesawat perintis jenis fokker dari Kupang. Lalu mendarat di Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemandangan pegunungan yang menjadi topografi kawasan Indonesia Timur sungguh memanjakan mata saya. Lekukan-lekukan bukit yang membentuk kontur-kontur garis, terlihat menghampar di bawah laksana akar pohon raksasa tua yang menyembul dari atas permukaan tanah.
Belum hilang rasa heran saya, gugusan-gugusan terumbu karang menghiasi lautan yang teduh. Sungguh sebuah awal yang luar biasa untuk memulai perjalanan pertama kali menginjakkan kaki di bumi yang menjadi habitat satu-satunya reptil prasejarah yang masih tersisa.
Kesempatan untuk menyambangi Taman Nasional Komodo (TNK) untuk berburu foto komodo (Varanus komodonensis) saya lewatkan dengan rombongan peserta hunting gratis ke Pulau Komodo yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Kapal mewah Merry Makin dengan nahkoda Kapten Frederic Garziglia, pria berkewarganegaraan Prancis yang telah belasan tahun tinggal di Indonesia, melaju membawa kami membelah laut di kawasan TNK.
Sekitar 45 menit perjalanan dari Labuan Bajo, Merry Makin merapat di Loh Buaya di Pulau Rinca. Pulau Rinca merupakan salah satu dari tiga pulau di kawasan TNK yang menjadi habitat komodo selain Pulau Komodo dan Pulau Padar. Dibandingkan Pulau Komodo, di pulau ini anda akan lebih mudah dan jamak menjumpai komodo. Tak kurang dari 1.100 ekor komodo hidup di pulau seluas 211 kilometer persegi.
Meski didampingi petugas jagawana, namun anda perlu berhati-hati karena komodo di pulau ini aktif dan liar. Tak jarang, melalui penciumannya yang tajam, reptil raksasa tersebut tak segan-segan mengikuti kita. Selain itu, komodo merupakan hewan yang lincah dalam berlari, piawai berenang, dan pandai memanjat pohon. Saat kepala komodo mendongak dan leher mulai mengembang, menjadi tanda bahwa komodo mulai terganggu dan siap menyerang.
Sedikit naik ke bukit, pemandangan laut terhampar di depan mata. Jajaran gugusan pegunungan pun mengundang, meski kali ini tampak berbeda dari biasanya. Menurut Setiadi Darmawan, panitia penyelenggara yang beberapa kali menyambangi TNK, musim hujan yang mengguyur sepanjang tahun, tak terkecuali di NTT, mengubah wajah tandus dan gersang kawasan TNK. Jajaran pegunungan yang biasanya berwarna kuning kecoklatan kini terlihat hijau. Padang savana gersang, kini terlihat lebat ditumbuhi ilalang dan rerumputan.
Selain terkenal dengan komodo, kawasan TNK juga menawarkan lokasi wisata alam lain yang tak kalah menariknya. Beruntung selama mengunjungi taman nasional ini saya juga diberi kesempatan menyaksikan ribuan kalong terbang meninggalkan sarangnya di Pulau Kalong untuk pergi mencari makan. Di sini anda akan menyaksikan siluet ribuan kawanan kalong menari menghiasi langit senja.
Lokasi wisata yang tak kalah menariknya adalah Pantai Merah atau Pink Beach. Dari Pulau Komodo, Pink Beach hanya ditempuh sekitar 10 menit menggunakan kapal. Lokasi ini menjadi lokasi favorit pelancong untuk menyelam ataupun sekedar snorkeling. Di sini keindahan hamparan pantai merah juga bisa dinikmati dari atas bukit.
TNK Butuh Dukungan
Keindahan kawasan Taman Nasional Komodo saat ini tengah bersaing dengan 28 finalis, di antaranya Amazon, Dead Sea, Grand Canyon, Halong Bay, Jeita Grotto, Maldives, Sundarbans, dan Galapagos untuk dinobatkan sebagai tujuh pesona keajaiban dunia yang baru (New 7 Wonders). Dari situs www.new7wonders.com, Taman Nasional Komodo masuk dalam peringkat 14 besar, namun perjalanan menjadi satu dari tujuh pesona keajaiban dunia bukanlah hal mudah.
Akhir bulan lalu dari hasil voting mingguan yang dilansir di www.new7wonders.com, Taman Nasional Komodo menempati peringkat paling rendah dari jumlah persentase pemilih. Bukan tidak mungkin jika kondisi ini terus menurun akan mendepak TNK dari tujuh pesona keajaiban dunia yang akan diumumkan 11 November 2011 mendatang.
![]() Loading |