25 September 2009 | 23:05
Perjalanan ke Baduy Dalam

Foto dan naskah: Agus Susanto

Bosan mengisi liburan sekolah di Jakarta? Cobalah perjalanan ke Kampung Cibeo di Baduy Dalam, Banten.

Kampung Cibeo adalah satu dari tiga kampung di Baduy Dalam (Baduy Kajeroan). Selain Cibeo, masih ada Kampung Cikartawana dan Kampung Cikeusik. Berjarak sekitar 120 kilometer dari Jakarta, kita akan menemukan kampung yang masih menjaga ketat adat istiadat. Kampung-kampung di Baduy terletak di ketinggian 500-1.200 meter di atas permukaan laut dan berada di Pegunungan Kendeng yang merupakan daerah hulu Sungai Ciujung.

Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, adalah terminal wisata Baduy yang dibuka tahun 1992 dan tempat terakhir kendaraan diperbolehkan masuk. Pintu masuk utama menuju Baduy Dalam adalah Desa Kanekes di Baduy Luar. Jalur Kampung Kadu Keter bisa dicoba karena jarak tempuh yang lebih cepat menuju ke Kampung Cibeo. Pulangnya kita bisa mencoba rute lain yang jaraknya dua kali lipat dengan melewati lebih banyak kampung, yaitu Cipaler,  Gajeboh,  Babakan Marengo, dan Babakan Balingbing.

Setelah menempuh tiga jam perjalanan melewati jalan setapak melintasi bukit-bukit, sungai, dan beberapa perkampungan Baduy Luar, sampailah kita di Kampung Cibeo. Tanda pembatas memasuki Kampung Cibeo hanyalah rumbai yang diikatkan pada pohon besar. Memasuki kawasan tersebut berarti semua larangan adat diberlakukan, salah satunya larangan memotret.

Ada 90 rumah panggung atau suhunan beratap rumbia berdiri berjajar berhadap-hadapan dengan bentuk sama. Paku dan besi buatan pabrik pantang dipakai, semua suhunan hanya diikat dengan ijuk atau dipasak dengan bambu.

Masyarakat Baduy yang memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan dikenal pula memiliki filosofi ”pondok teu meunang disambung, nu panjang teu meunang dipotong” (yang pendek tak boleh disambung dan yang panjang tak boleh dipotong). Maknanya, orang Baduy pada dasarnya menerima alam sebagaimana adanya.

Comment
didien @ 09 January 2012 | 16:46
wah..keren bisa melihat langsung kehidupan suku baduy dalam di banten..tapi yang jadi pertanyaan, jika ada larangan memotret oleh adat setempat, kok bisa fotonya diambil dan dipublis..?? heheeee..:D
Erland @ 29 October 2011 | 20:17
suku baduy masih menjaga kelestarian alam'y ya bagus ntuh...
Edy Hastama @ 15 June 2011 | 13:59
Suku Baduy.. suku yang benar-benar menjaga kelestarian alam dan keseimbangan lingkungan, masyarakat yang bersahaja dan seederhana tanpa ada perbedaan satu sama lain interen suku. sebenarnya dari sana kita bisa belajar banyak tentang hal.. thank's
Aldy Januar Pinanggih @ 13 May 2011 | 08:21
tapi banyak yang mengotori nya, masa sampoan di sungai padahal kan ga boleh
anton fathullah @ 26 September 2010 | 11:46
Baduy...semua orang Banten pasti tau seperti apa orang baduy itu,kebetulan kota kelahiran saya berbatasan dengan kabupaten lebak ( Rangkas Bitung ),orang di tempat kelahiran saya menyebut orang baduy itu dengan sebutan Rawayan saya sendiri kurang tau apa arti rawayan, tapi yang pasti orang baduy adalah contoh dari kesederhanaan bahkan di baduy masih ada sistem transaksi dengan sistem barter. Walaupun saya baru sekali ke baduy tapi saya bisa merasakan ketentraman di sana masyarakatnya begitu sederhana dan bersahaja. Ada satu kejadian yang tidak bisa saya percaya yaitu pada waktu saya ke sana saya foto foto bersama teman teman saya, tapi yang bkin saya heran adalah hasil foto saya semuanya tidak ada yang jadi semuanya kebakar dan yang mengalami peristiwa ini bukan saya saja tapi semua rombobgan saya mengalami hal yang sama. K
Post Your Comment
Other Photostory
Asa dari Kolong Tol Pluit
Cahaya sore menerpa tiang-tiang beton…
Ruang Olahraga yang Tersisa
Semakin hari Ibu Kota…
Nestapa Petani Tembakau di Lereng Sumbing-Sindoro
Pagi di pertengahan September baru…
Monyet Ekor Panjang Punya Rumah Baru
 Orang Bali menyebutnya bojog, orang Jawa…
Air Mata di Ranah Minang
 Bumi bergoncang, dalam waktu sekejap ranah…
loading...
Loading