23 May 2011 | 00:42
Perjuangan untuk Pendidikan

Foto dan Naskah: Kristianto Purnomo

Perjalanan menuju Desa Cicaringin, Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak, Banten tinggal selangkah lagi. Mobil yang saya kendarai menyapu jalan tanah desa yang diperkeras dengan batu, tanjakan dan turunan berkelok, dan membelah perkebunan karet.

Suasana pedesaan begitu terasa saat memasuki Desa Cicaringin. Rumah-rumah panggung berdinding anyaman bambu menjadi pemandangan sebagian besar rumah warga. Desa yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Serang boleh dibilang miskin infrastruktur.

Tak hanya akses jalan utama menuju desa ini rusak parah dan terkelupas aspalnya, namun sudah hampir lima bulan warga harus susah payah meniti kawat baja jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Seberang Mustari dan Kampung Cicaringin untuk menyeberang Sungai Ciliman.

Bagi anak-anak desa yang umumnya masih duduk di bangku sekolah dasar, menyeberang jembatan rusak akibat tersapu banjir bandang bukan tanpa rasa takut. Tanpa pelampung dan tali pengaman, satu persatu anak merayap melintasi tali baja yang membentang di atas sungai sepanjang 40 meter. Selangkah demi selangkah mereka bergerak maju. Sesekali mereka terlihat berhenti untuk menyeimbangkan diri saat tali baja seukuran ibu jari bergoyang kuat.

Sementara itu sepuluh meter di bawah mereka, air Sungai Ciliman mengalir deras. Saat Sungai Ciliman banjir, niat anak-anak pergi ke sekolah pupus, mereka memilih untuk tidak pergi sekolah.

"Kasian anak-anak, mereka harus menyeberang sungai dengan tali sling (kawat baja), belum lagi kalau sungai banjir mereka terpaksa tidak sekolah karena resikonya besar," ujar Sunta seorang tokoh masyarakat di Cicaringin.

Perjalanan mencapai sekolah di SD Negeri Cicaringin 3 semakin berat bagi anak seusia mereka. Pagi-pagi buta bocah-bacah yang sebagian besar anak buruh penyadap karet dan petani ini sudah bangun dan menempuh perjalanan kaki sejauh enam kilometer pergi pulang ke sekolah. Tak heran jika orang tua di desa ini mulai memasukkan anaknya ke sekolah dasar pada usia delapan tahun karena pertimbangan fisik untuk menempuh perjalanan jauh.

Bagi Ibandrio, Maimunah, Masitoh, Enah dan sekitar 10 temannya, berjalan kaki menuju sekolah telah menjadi sarapan sehari-hari. Meski sudah terbiasa, mereka mengaku perjalanan tersebut cukup menguras tenaga. Untuk mengusir rasa lelah, canda dan gelak tawa terdengar sepanjang perjalanan mereka.

Selepas sekolah, bukan berarti waktu luang anak-anak untuk bermain. Sebagian anak-anak di Cicaringin memilih mengumpulkan pasir sungai untuk dijual ke tetangga yang membutuhkan.

Satu ember pasir dihargai Rp 1.000, tak jarang mereka mendapatkan Rp 8.000 - Rp 10.000 dari hasil mengumpulkan pasir. Alasan mereka mendapatkan uang memang tak lain sekedar untuk jajan, namun cara mereka mendapatkan uang dan menjalani hidup untuk pendidikan tak sesederhana untuk anak seusia mereka.

Comment
Rizzaldyananwar @ 14 February 2012 | 01:03
apa ini semua gara2 para koruptor yang nilep uang negara dan rakyat shgga pembanguna tidak lancar krna uamg negara masuk kekantong para korruptor yah aduh pusing mikirin orang orang atas nih. semua orang bisa koq setelah jadi pegawai negara eeee malah berfoya foya dengan uang hasil ngutil duwet rakyat
zose indonesia @ 11 February 2012 | 12:38
TIDAK KAH ENGKAU MELIHAT para punggawa pemerintah daerah, diknas, mendiknas ....... kasihan anak anak kita, tiap hari berjuang menyelamatkan nyawanya demi mendapatkan pendidikan...." APAKAH MEREKA LAYAK MENDAPATKAN FASILITAS SEPERTI ITU"
Jo No @ 08 February 2012 | 12:12
Anak-anak ini jangan hanya menjadi bahan berita di media apalagi dijadikan komoditas politik oleh orang-orang yang ingin mentenarkan diri dengan tindakan sok pahlawan, dalam rangka meraih tujuan tertentu, mereka benar-benar mebutuhkan keikhlasan para pemimpin dan dermawan untuk bisa bangkit dari keadaannya sekarang.....
Aly Imago Dei @ 04 February 2012 | 20:42
Para pejabat buka mata Hati bayangkan anak2 kalian seperti itu
dharmawan @ 01 February 2012 | 20:21
Dimana hati nurani kalian,hai penjabat daerah maupun pusat,jangan hanya korupsi yang dimajukan...lihat anak2 itu,calon2 bangsa yang bakal pimpin negeri tercinta ini..kalian manusia apa bukan!hanya memikirkan diri sendiri,memperbaharui gedung DPR dengan biaya 20M lebih..itu dari siapa...?RAKYAT...duduk dikursi penjabat dari siapa..?RAKYAT...yang gaji siapa..RAKYAT...Tolong diperhatikan..RAKYAT
Post Your Comment
Other Photostory
Sa Pa, Surga di Pegunungan Vietnam
Meski hanya sebuah kota kecil…
Perjalanan ke Baduy Dalam
Bosan mengisi liburan sekolah di Jakarta? Cobalah…
Menggantungkan Hidup di Tali Tambang Pantai Timang
TALI tambang plastik sepanjang 200 meter berumur…
Lok Baintan, Pasar Terapung Terakhir
Ibu separuh baya itu mengayuh perahu…
Kroser Petani dari Gunung Sumbing
Solidhin menggeber gas sepeda motornya, meraung-raung…
loading...
Loading