08 June 2011 | 12:37
Konflik Gajah dengan Manusia Tak Berkesudahan

Foto dan naskah: Kristianto Purnomo

Gulita malam menutup pemandangan Kampung PPN, Desa Petani, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau. Berbeda dari hari biasa, sudah sepekan warga Kampung PPN yang sebagian besar petani karet dan sawit tak bisa tidur nyenyak, disibukkan dengan jadwal ronda malam. Kali ini buruan mereka bukan maling yang menyelinap diam-diam ke rumah warga.

Beberapa warga terlihat duduk di gubuk beratap rumbia yang dibangun di tengah perkebunan karet. Sapriman, Ketua RT 06 Kampung PPN, dan warga masing-masing berjaga-jaga dengan petasan di tangan.

Dari kejauhan mendadak rentetan bunyi petasan terdengar. Tanpa komando warga beranjak bergerak membelah lebatnya semak belukar, mengendap di antara pohon karet dan sawit, mengarahkan senter ke segala arah untuk menemukan dan menghalau gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar yang masuk di perkebunan.

Tidak kurang dari 20 orang ronda malam itu. Hampir sepanjang hari mereka terus memantau pergerakan mamalia raksasa ini. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk mengusir kawanan gajah yang merusak pohon sawit.

Di tengah perkebunan, warga memasang pelita, membakar semak-semak untuk menakut-nakuti gajah bahkan mengusirnya dengan bunyi-bunyi petasan. Namun, tampaknya gajah liar masih enggan beranjak keluar dari kebun mereka.

Tidak terhitung berapa ratus petasan yang telah diletupkan warga untuk menghalau kawanan gajah liar selama sepekan. Biayanyapun terbilang tidak murah. Untuk sebatang petasan, warga harus merogoh kocek sebesar Rp 13.000 hingga Rp 15.000. Hendri warga desa bahkan mengaku sedikitnya membakar 15 petasan dalam semalam.

Bagi warga Kampung PPN, serangan kawanan gajah liar di areal perkebunan sawit bukanlah kali pertama. Menurut Sapriman, serangan tersebut bahkan telah terjadi sejak 20 tahun terakhir.

"Kampung ini memang menjadi lintasan gajah liar mencari makan. Mereka akan selalu kembali lagi ke sini. Kalo tidak dihalau satu hektar kebun sawit bisa habis dalam semalam," ujarnya.

Konflik gajah liar dengan warga di Riau tak lepas dari hilangnya habitat gajah sumatera di kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja. Dari data World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, kawasan suaka margasatwa seluas 18.000 hektar yang dulu kaya akan tumbuhan meranti, balam, bintagur, kempas, kelat, kulim, giam, dan rotan kini tak lebih dari 200 hektar atau tersisa satu persen dari luas total suaka margasatwa.

Kawasan suaka margasatwa dibabat dan berubah wajah menjadi areal perkebunan sawit dan karet. Konversi hutan menjadi lahan perkebunan mengusir kawanan gajah liar dari habitatnya. Mereka dihalau dari kampung ke kampung, berpindah dari perkebunan yang satu ke perkebunan lainnya.

Celakanya, perambahan hutan dan konversi kawasan suaka margasatwa tidak hanya dilakukan perambah liar dan perusahaan besar. Bahkan, melalui pemberian izin-izin pembukaan lahan, pemerintah telah turut andil menciptakan konflik gajah dan warga yang tidak akan berkesudahan.

Konflik gajah liar dengan warga tidak hanya menelan kerugian ekonomi. Tak sedikit nyawa manusia melayang akibat amukan gajah liar. Tak jarang pula gajah liar meregang nyawa diracun warga.

Comment
rimponk @ 07 August 2012 | 10:07
kenapa kita nggak bisa kayak thailand yang tetap berdampingan bahkan hidup bersama dengan gajah...?sepertinya itu akan lebih indah.
dwi's @ 09 July 2012 | 23:04
wah yg slah mnusianya mrusak dlu habitat si gajah,coba kita di buat sperti itu pasti kita akan marah lah...
James @ 09 June 2012 | 22:14
ya ampun, kasian gajahnya! tapi lebih kasian manusianya
Mas Ukik @ 16 April 2012 | 14:23
Lho gajah itu datang untuk mengusir manusia dari habitat mereka!!!
dodol @ 23 March 2012 | 09:53
sama aja dong manusia&gaja; sama2 punya anak sama seperti lho
Post Your Comment
Other Photostory
Air Mata di Ranah Minang
 Bumi bergoncang, dalam waktu sekejap ranah…
Asa Korban Awan Panas Merapi
“Saya nggak bisa kemana-mana, tiba-tiba…
Pengembaraan Pangeran Bebek
  Matahari baru saja menampakkan wujudnya,…
Menyambangi Taman Nasional Komodo
Perjalanan menggunakan pesawat perintis jenis…
Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta
Sebanyak 30 pesepeda dari berbagai…
loading...
Loading