22 January 2012 | 22:45
Pencarian Arcopodo di Gunung Semeru

Foto dan naskah: Fikria Hidayat

Pukul 00.00 hujan menerpa kawasan Pos Kalimati. Pendakian dini hari ke Mahameru, puncak Gunung Semeru nyaris dibatalkan jika saja hujan tidak reda. Setengah jam kemudian hujan tiba-tiba berhenti, lalu pendakian diputuskan dilakukan meskipun kabut masih menyelimuti.

Bersyukur, menjelang Pos Arcopodo di ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut, langit terbuka cerah sehingga menepis kekhawatiran terjadi badai saat pendakian pe puncak. Setelah sejenak beristirahat di pos, pendakian dilanjutkan menapak hamparan pasir dan batuan lava. Pendakian terasa berat karena selain dingin yang menusuk, ketinggian seperti tidak bertambah. Saat kaki melangkah ke atas, saat itu juga langkah kembali ke bawah bersama guguran pasir.

Setapak demi setapak akhirnya tiba juga di puncak di ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Pukul 5.30 saat itu matahari sudah menyengat tapi dingin semakin menggigit. Tidak lama berada di puncak, setelah dirasa cukup mendokumentasi, dilanjutkan turun ke Pos Arcopodo untuk istirahat dan mengatur pencarian Arcopodo.

Saat itu, usai istirahat dan makan pagi bersama tim Ekspedisi Cincin Api Kompas, perjalanan dilanjutkan untuk melakukan pencarian Arcopodo yang sebelumnya dinyatakan hilang. Tim harus naik lagi ke batas vegetasi lalu berbelok menuju timur menyeberangi tiga jurang yang merupakan aliran lahar.

Perjalanan ini ternyata lebih berbahaya dibanding pendakian menuju puncak. Jalur pasir dan batuan rapuh yang dilalui siap melempar tubuh hingga menggelinding ke jurang. Awalnya nyaris tidak mungkin melewati aliran lahar tersebut, tapi apa boleh buat, menurut Ningot Sinambela yang menjadi pemandu tim, itulah lintasan termudah untuk menuju Arcopodo.

Sosok Bima

Sekitar pukul 11.00 akhirnya tiba juga di Arcopodo tepatnya di ketinggian 3.002 mdpl. Arca kembar tidak berbeda dengan foto tahun 1984 bersama almarhum Norman Edwin. Salah satu arca sudah tidak utuh dengan kepalan yang hilang.

Arkeolog Dwi Cahyono dari Universitas Negeri Malang membaca arca tersebut sebagai sosok Bima pelindung bahaya letusan Gunung Semeru. Arca sebelah kiri belum bisa diidentifikasi. Arca diperkirakan berasal dari masa Majapahit abad XIV-XV karena memiliki kedekatan dengan prasasti di Ranu Kumbolo.

Jalur pendakian sebelum 1980 melewati arca kembar ini. Sedangkan jalur pendakian yang ada sekarang adalah jalur yang sudah dipindahkan dan populer disebut jalur Pos Arcopodo. Arcopodo yang melegenda itu benar-benar ada. Letaknya tersembunyi dan terjaga di tengah kesunyian Gunung Semeru.

Comment
marlon @ 18 February 2012 | 16:29
'' jika msh bisa untuk di wariskan '' sebaik nya jgn pernah utk di rusak.....
fajar @ 13 February 2012 | 22:43
biarkan arcopodo menjadi salah satu keindahan tersembunyi di mahameru .. tuhan memberikan keinginan umatnya yang mau bersahabat dengan alam
Amanda kartika alfiana @ 12 February 2012 | 16:08
hhhhaaaaaccceeemmmmmmmmmm
Dendi @ 09 February 2012 | 16:56
Mahameru berikan damainya...di dalam beku arcapada...biarkan arca ini tetap sunyi
Lina @ 09 February 2012 | 13:05
Ehm .... Aq juga baru tau .. Kapan2 pengen liat sprt ap ya ....
Post Your Comment
Other Photostory
Sa Pa, Surga di Pegunungan Vietnam
Meski hanya sebuah kota kecil…
Perjalanan ke Baduy Dalam
Bosan mengisi liburan sekolah di Jakarta? Cobalah…
Menggantungkan Hidup di Tali Tambang Pantai Timang
TALI tambang plastik sepanjang 200 meter berumur…
Lok Baintan, Pasar Terapung Terakhir
Ibu separuh baya itu mengayuh perahu…
Kroser Petani dari Gunung Sumbing
Solidhin menggeber gas sepeda motornya, meraung-raung…
loading...
Loading