03 November 2009 | 02:39
Penang, Pantai Barat Semenanjung Malaysia
Foto dan naskah: Fikria Hidayat
 
SEMUA orang tentu ingin berplesir nyaman dan murah. Hanya saja tidak semua daerah menjamu kita dengan layanan tersebut. Di Penang, pantai barat semenanjung Malaysia, pihak swasta tahu betul mengolah paket layanan tersebut. Antara regulasi pemerintah setempat dengan pihak swasta berintegrasi membangun sektor pariwisata. Hasilnya, kota kecil dikemas menjadi nyaman sekaligus murah untuk dikunjungi para wisatawan.
 
Tiba di Bandara Internasional Penang dan memilih langsung menuju George Town, pusat kota Penang. Kota yang dijadikan sebagai salah satu warisan budaya dunia dari Unesco, ini tertata dalam blok-blok bangunan yang rapi. Aroma kolonial terasa kental ketika memandangi arsitektur bangunan-bangunan tua di kota tersebut.
 
Di kota ini pula segala potensi wisata diusung sedemikian rupa. Mulai puluhan bangunan yang sengaja direstorasi total oleh pemerintah hingga budaya atau tradisi masyarakatnya yang sengaja dipertahankan. Para wisatawan tampak hilir mudik di kawasan pedestrian yang selalu bertemu dengan perempatan dengan lampu merah tanpa polisi dan jalan raya tanpa kemacetan lalu lintas.
 
Wisatawan yang memilih perjalanan dengan kantong irit, dibuat nyaman dengan adanya hotel yang super murah tapi dengan layanan mewah. Hanya dengan harga mulai dari Rp 42.000 per malam, kita sudah bisa menginap di hotel dengan layanan bintang lima. Seperti di Tune Hotels.com yang terletak di pusat kota tersebut.
 
Semuanya serba murah. Untuk makanan khas setempat yaitu nasi lemak, cukup merogoh kocek RM 1 atau kira-kira Rp 2.800 per bungkus. Atau makanan lainnya khas India atau China yang rata-rata hanya mulai dari RM 5. Wisata kuliner di kota ini seperti tidak ada habisnya. Makanan khas China, India dan melayu mendominasi cita rasa makanan. Lagi-lagi cukup diperoleh hanya dengan harga yang cukup murah.
 
Hotel juga biasa melayani paket wisata keliling kota sepuasnya. Mulai dari mengunjungi bangunan-bangunan tua etnis China peranakan lengkap dengan isinya hingga ke rumah ibadah seperti vihara maupun klenteng serta menuju kawasan ekowisata.
 
Semua itu tentu belum ada apa-apanya jika dibanding dengan daerah-daerah di Indonesia yang lebih kaya dan beragam. Hanya saja, orang-orang di kota kecil tersebut cukup jeli menggali lalu mengemas segelintir potensi wisata yang ada. Mulai dari jaminan kemudahan transportasi dan informasi, murahnya akomodasi, keamanan, kebersihan serta kenyamanan.
Comment
cewkyute @ 15 September 2010 | 06:30
ga bakalan nyesel...top abis...gw aja merasa betah tinggal disini...semau serba ada dan terjamin...
jhonwalker yohanes @ 13 February 2010 | 22:29
emang rapi dan nyaman tapi kok obyek wisata nya pnya China ama India trus mana melayunya ...Indonesia maju dong Obyek wisatanya dengan budaya lokal
Andi @ 06 February 2010 | 09:56
Alam Indonesia jauh lebih indah. Unggul karena sangat luas. Sayangnya keindahan tersebut tidak dijaga. Sampai di desa terpencil di tepi hutan sampah plastik melimpah. Bahkan di taman nasional, pantainya ada sampah plastik. Selain itu kondisinya semakin lama semakin menurun karena lagi-lagi tidak di jaga oleh masyarakat dan juga pemerintah. Sayang sekali .....
gadoel @ 08 January 2010 | 23:30
pokoknya g nyesel dech, wisata ke PENANG.anda-anda semua bisa melihat betapa jauhnya perbedaan dengan negara kita.terlihat jelas difoto2 diatas, tatanan kota yang bagus, jalan raya pun bersih, itu karena semua berkat MPPP (majelis perbandaran pulau pinang).kalo di negara kita PEMKOT, mereka selalu memberikan konstribusi imbal balik antara pemerintah dan masyarakat.sehingga masyarakat sadar dengan sendirinya akan tempat tinggalnya. .selamat berkunjung ke PULAU PENANG, ambil baiknya, tanamkan di negara kita...
Ndat @ 08 January 2010 | 14:53
Saya yg sekarang masih tinggal di mlys ngerasa memang benar antara masyarakat dengan pemerintah bahu membahu memajukan sektor wisata. kebiasaan buang sampah pada tempatnya, kebiasaan antri, kebiasaan baik lainnya, sehingga lingkungan bersih. Lain dengan di INdo keadaan rakyat masih 'pabaliut' dg kepentingan perut. norma2 tak diindahkan lagi. besi penutup parit di curi, tempat sampah di tempat2 umum dicuri, baut jembatan madura yg baru dibuka pun dicuri, bahkan alat pendeteksi tsunami di samudra hindia juga dicuri. Ternyata penyakit 'curi' itu tertular dari Bapak2 pejabat yg pencuri.
Post Your Comment
Other Photostory
Perjalanan ke Baduy Dalam
Bosan mengisi liburan sekolah di Jakarta? Cobalah…
Menyambangi Taman Nasional Komodo
Perjalanan menggunakan pesawat perintis jenis…
Penang, Pantai Barat Semenanjung Malaysia
 SEMUA orang tentu ingin berplesir nyaman…
Menggantungkan Hidup di Tali Tambang Pantai Timang
TALI tambang plastik sepanjang 200 meter berumur…
Semarak Opera Tio Ciu Pan
Ruang belakang panggung berangsur ramai.…
loading...
Loading